WAYANG WARISAN BUDAYA INDONESIA - Travel World Tour

Sabtu, 14 Januari 2023

WAYANG WARISAN BUDAYA INDONESIA

 WAYANG KULIT WARISAN BUDAYA INDONESIA

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki banyak sekali kekayaan di dalamnya. Salah satunya adalah kekayaan akan kebudayaan dan juga kesenian di setiap daerahnya. Di setiap daerah Indonesia selalu memiliki kesenian yang begitu khas yang bisa melambangkan atau menggambarkan daerah tersebut.

Bahkan beberapa kesenian khas Indonesia juga sudah ada yang mendunia. Tak heran jika orang luar negeri juga tahu beberapa kesenian Indonesia secara langsung. Artinya mereka tahu kesenian Indonesia dari apa yang mereka lihat secara langsung bukan hanya informasi dari internet saja.

Wayang kulit adalah salah satu contoh kesenian Indonesia yang sampai saat ini masih terus dilestarikan sebagai kekayaan budaya. Bagi masyarakat khususnya daerah Jawa, keberadaan wayang kulit juga menjadi salah satu budaya kesenian yang biasanya dimainkan dalam beberapa hari-hari penting atau acara tertentu seperti pernikahan.

Sejarah Wayang Kulit

Wayang kulit menjadi salah satu kesenian tradisional yang lahir, tumbuh dan berkembang sampai saat ini. Terutama di wilayah Jawa, kesenian wayang kulit memang masih kerap dan mudah ditemukan pada acara tertentu seperti pernikahan maupun acara tahunan di suatu desa. Jika dilihat lebih dalam, wayang kulit bukanlah sekedar kesenian pertunjukan saja. Namun kesenian wayang kulit merupakan media permenungan menuju roh spiritual para dewa.

Istilah wayang sendiri berasal dari kata ma Hyang yang memiliki arti menuju spiritual Sang Kuasa. Namun ada juga yang mengartikan jika istilah wayang berasal dari teknik pertunjukan yang mengandalkan bayangan (bayang atau wayang) pada layar yang digunakan.

Lalu pembuatan wayang biasanya menggunakan kulit kerbau. Hingga saat ini kulit kerbau juga bisa dibilang menjadi pilihan yang begitu banyak digunakan dalam proses pembuatan wayang.

Dalam proses pementasannya sendiri, pagelaran wayang kulit akan dimainkan oleh seorang yang kerap disebut sebagai dalang. Pementasan seni wayang tidak akan lengkap jika tidak diiringi oleh gamelan. Mereka yang memainkan gamelan juga bisa disebut dengan nayaga.

Selain itu dalam pagelaran wayang juga ada yang namanya sinden. Dimana nantinya sinden akan menyanyikan beberapa lagu dalam pagelaran wayang kulit yang juga akan diiringi oleh alunan musik gamelan.

Jadi bisa dibilang jika dalam pagelaran wayang secara keseluruhan ada yang namanya dalang yang memainkan wayang kulit sesuai dengan cerita yang dibawakan. Lalu ada nayaga yang bertugas untuk memainkan alat musik gamelan dan juga beberapa sinden yang bertugas menyanyikan lagu dalam pagelaran wayang kulit tersebut.

Perlu diketahui jika setiap bagian dalam pementasan pagelaran kesenian wayang kulit juga memiliki simbol dan makna nya tersendiri. Apalagi jika dilihat dari segi cerita. Biasanya cerita pewayangan akan memiliki makna budi pekerti yang luhur, saling mencintai, dan juga menghormati sesama.

Bahkan terkadang dalam cerita pewayangan yang diangkat terdapat kritik sosial. Dalam satu pagelaran wayang bukan hanya membawakan cerita yang terkesan serius saja. Namun ada juga bagian lucu yang kerap disebut dengan nama goro-goro.

Selain bisa menjadi pencair suasana serius dalam pagelaran wayang kulit. Adanya goro-goro juga menjadi satu hal yang menarik dan juga menjadi daya tarik tersendiri dalam pagelaran wayang tersebut. Tak heran jika banyak penonton pagelaran wayang kulit yang akan menantikan pementasan goro-goro dalam satu pementasan wayang kulit.

Sejarah dari dari mana asal usul wayang kulit bisa dikenal di Negara Indonesia juga terbilang cukup beragam. JLA Brandes, GAJ Hazeu, J Kats, Anker Rentse, dan beberapa peneliti lainnya meyakini jika wayang berasal dari pulau Jawa.

Lalu dari penelitian R Pichel, Poensen, Goslings, dan Rassers menjelaskan jika wayang berasal dari Negara India. Jika dari penelitian J Krom dan WH Rassers didapatkan sebuah penjelasan bahwa wayang berasal dari percampuran budaya Jawa dan India.

G Schlegel menyatakan jika wayang berasal dari Negara China. Guru Besar Ilmu Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Prof Kasidi Hadiprayitno menyatakan bahwa wayang sudah ada jauh sebelum abad ke-9. Ia juga menjelaskan jika wayang pada masa Majapahit juga sudah mulai berkembang meski bentuknya belum seperti wayang yang ada seperti saat ini.

Jika dilihat lebih jauh lagi ternyata di Negara Indonesia bukan hanya ada wayang kulit saja. Melainkan ada beberapa bentuk wayang yang terbilang cukup populer di asal daerahnya.

Sebuah karya yang berjudul Wayang, Kebudayaan Indonesia dan Pancasila (1988) ciptaan Pandam Guritno menjelaskan jika wayang memiliki jenis yang berbeda di setiap daerahnya. Seperti di daerah Jawa, Bali, Lombok, Kalimantan, dan Sumatera memiliki jenis wayang yang berbeda-beda.

Di Pulau jawa sendiri dikenal adanya wayang beber, wayang gedog, wayang golek, wayang jemblung, wayang klithik (klithik), wayang karucil (krucil), wayang langendria, wayang lilingong, wayang lumping, wayang madya, wayang pegon, wayang purwa, wayang puwara, wayang sasak, wayang topeng, dan wayang wong atau wayang orang.

Di daerah Bali masyarakat mengenal adanya wayang gambuh, wayang parwa, dan wayang ramayana. Sementara di Lombok ada wayang sasak, di Kalimantan ada wayang banjar, dan di Sumatera ada wayang palembang.

Jalan cerita yang ada di wayang sebagian besar tentang kisah Mahabarata, Ramayana maupun cerita panji. UNESCO pada tahun 2003 menetapkan wayang kulit sebagai salah satu dari warisan budaya Indonesia yang indah dan juga berharga.

RAGAM WAYANG DI NUSANTARA

Tahun 1988 dalam tulisan Pandam Guritno di dalam karyanya yang berjudul Wayang, Kebudayaan Indonesia dan Pancasila menyebutkan bahwa Indonesia, khususnya di Jawa, Bali, Lombok, Kalimantan, dan Sumatera terdapat puluhan model atau jenis wayang. Guritno merujuk pada Prof Dr L Serrurier, Direktur Museum Etnografi di Leiden, yang melakukan survei pada akhir abad ke-19 tentang jenis-jenis wayang yang ada di Pulau Jawa. Hasil penelitiannya kemudian diterbitkan dengan judul De Wajang Poerwa pada 1896. Menurut Serrurier sendiri, jenis-jenis wayang yang dikenal di Pulau Jawa ketika itu, yaitu:

  1. Wayang Beber
  2. Wayang Gedog
  3. Wayang Golek
  4. Wayang Jemblung
  5. Wayang Kalithik (Klithik)
  6. Wayang Karucil (Krucil)
  7. Wayang Langendria
  8. Wayang Lilingong
  9. Wayang Lumping 
  10. Wayang Madya
  11. Wayang Pegon 
  12. Wayang Purwa
  13. Wayang Puwara
  14. Wayang Sasak
  15. Wayang Topeng
  16. Wayang Wong atau Wayang Orang.


 

Comments


EmoticonEmoticon